INILAHCOM, Denpasar - Melanjutkan kampanye 'Aman Bersama Chevrolet' yang telah dilakukan di beberapa sekolah dasar di kawasan Jakarta dan Bekasi sejak akhir tahun lalu, Chevrolet Indonesia kembali mengunjungi SD Negeri 17 Dauh Puri, Denpasar, Bali.
Kunjungan ini bertujuan untuk melakukan edukasi mengenai keselamatan, melalui sosialisasi ke seluruh murid kelas 1 sampai 6 dengan perangkat edukasi, berupa 800 buku komik berjudul 'Liburan Aman Bersama Chevrolet'.
"Kami sangat senang melihat antusiasme anak-anak dan pihak sekolah dalam berpartisipasi pada kegiatan ini. Terkadang beberapa kebiasaan kita memiliki potensi bahaya dan dapat mengakibatkan kecelakaan yang merugikan," ujar Yuniadi Haksono Hartono, External Affairs & Communications Director General Motors (GM) Indonesia, dalam siaran persnya kepada INILAHCOM.
"Kita semua berharap bahwa setiap orang selalu berada di dalam keadaan aman ketika menuju sekolah, tempat kerja, dan di kehidupan sehari-hari. Dengan menyasar murid sekolah dasar, harapan kami pengetahuan ini dapat diterapkan dan disebarluaskan, serta membentuk anak-anak sebagai duta keselamatan," imbuhnya.
Kampanye ini merupakan inisiatif GM Indonesia yang merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang akan terus berkelanjutan di beberapa daerah lainnya.
Chevrolet sebagai brand otomotif global dengan filosofi yang mengutamakan Keselamatan Diatas segala Prioritas (Safety Overrides Priorities) juga terus berupaya mengembangkan produk-produk dengan fitur dan kualitas keselamatan tinggi berstandar internasional.
Hal tersebut sejalan dengan komitmen GM yang selalu menempatkan konsumen sebagai pusat dari segala aktivitas.
Guna mengembangkan produk yang syarat akan aspek keamanan, produk-produk Chevrolet selalu melewati tahap uji aman kendaraan yang didukung oleh para ahli dan teknisi andal.
Selasa, 01 Agustus 2017
Chevrolet Edukasi Lebih dari 700 Siswa SD di Bali
Cara Melakukan Panggilan Telepon Pada Tahun 1949
INILAHCOM, Jakarta - Saat ini cara melakukan panggilan telepon sungguh sangat mudah. Penasarankah Anda bagaimana cara melakukan panggilan telepon pada era 1940-an?
Saluran wdtvlive42 - Archive Footage di YouTube melalui video terbaru unggahannya coba memperlihatkan cara melakukan panggilan telepon pada tahun 1949.
Penasarankah Anda seperti apa? Tonton videonya di bawah ini:
Mengenal Apa Itu 'Afterburner' pada Pesawat Jet
INILAHCOM, Jakarta - Jika membahas pesawat jet tak bisa lepas dari istilah 'afterburner'. Penasarankah Anda dengan istilah tersebut? Tonton videonya di bawah ini.
HolyKaw melansir, di acara 2017 EAA AirVenture yang digelar di Oshkosh, Wisconsin, AS, pesawat jet B-1B memperlihatan 'afterburner' yang terkenal itu kepada para pengunjung yang hadir.
Awan yang terbentuk di sekeliling pesawat terbentuk dari proses kondensasi instan.
'Afterburner' atau pembakaran lanjut adalah sebuah komponen tambahan yang dipasang pada sesetengah mesin jet, terutama pada pesawat militer berkecepatan supersonik untuk memberi lonjakan daya dorong sementara saat terbang baik dalam kecepatan supersonik atau saat lepas landas (disebabkan beban sayap yang tinggi pada tipikal pesawat supersonik biasanya memerlukan kecepatan yang sangat tinggi untuk lepas landas).
Bagi sebuah pesawat militer, tambahan daya dorong amat berguna dalam sebuah pertempuran udara. Keadaan ini dicapai dengan menyuntikkan bahan bakar jet tambahan ke dalam arus bawah pipa jet dalam turbin.
Tonton videonya di bawah ini:
Kemkominfo dan Telegram Tangani Konten Terorisme
INILAHCOM, Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) dan layanan pesan Telegram sepakat untuk menangani konten negatif, terutama yang berkaitan dengan terorisme, di platform tersebut.
"Kami sebagai tim, perusahaan, organisasi, berusaha meminimalisir," kata Pavel Durov, pendiri Telegram, saat jumpa pers di Jakarta, Selasa (1/8/2017).
Telegram dan Kemkominfo membuat tata cara serta jalur khusus agar dapat berkomunikasi secara efisien.
Baca juga: Ditemui Bos Telegram, Kominfo Buka Status Blokir?
Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Samuel Abrijani Pangerapan menyatakan, Telegram akan mengawasi percakapan yang berkaitan dengan propaganda di kanal publik (public channel), tapi tidak akan masuk ke percakapan pribadi (private chat).
Menurut Durov, Telegram masih memegang kerahasiaan dan keamanan penggunanya.
Pertemuan Telegram dengan Kemkominfo kali ini membahas bagaimana memerangi propaganda di kanal publik, namun tidak ada pembahasan askses data kepada pemerintah bila ada kepentingan mendesak.
"Kita belum bahas sampai ke sana, tapi bagaimana memerangi propaganda di kanal publik," kata Samuel.
Telegram dan Kemkominfo membuat saluran komunikasi khusus agar mereka dapat membahs hal-hal yang berkaitan dengan konten negatif secara cepat dan efisien.
Durov menyatakan mereka belum memutuskan untuk membuka kantor perwakilan di Indonesia, tapi, akan bekerja sama dengan komunitas lokal untuk memahami persoalan yang ada di sini. [tar]
Lendir Siput Jadi Inspirasi Ahli Bedah
INILAHCOM, Washington DC - Sekelopok ilmuwan di mAS telah mengembangkan perekat eksperimental untuk menutup luka bekas operasi yang terinspirasi oleh lendir yang diproduksi siput. Perekat ini dapat menjadi alternatif bagi benang operasi dan staples khusus pembedahan untuk menutup luka sayatan.
Meskipun perekat untuk menutup luka sayatan sudah tersedia, namun sering kali daya rekatnya lemah dan kurang fleksibel selain juga tidak dapat berfungsi dengan baik dalam kondisi yang sangat basah.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, sekelompok ilmuwan dari Harvard dan pusat penelitian lainnya telah memutuskan untuk mempelajari siput, yang selain memproduksi lendir agar dapat berjalan, juga dapat memproduksi lendir yang sangat lengket sebagai mekanisme pertahanan.
Kiat siput untuk menghasilkan senyawa yang tidak hanya membentuk ikatan yang kuat pada permukaan yang basah namun juga memiliki sarana yang menguraikan energi di titik lekat, sehingga membuatnya sangat fleksibel.
Kuat, tidak beracun
Versi buatan manusia dari lem yang kuat ini berdasarkan pada prinsip-prinsip yang sama dan dalam sebuah rangkaian percobaan seperti dilaporkan dalam jurnal Science, bagaimana perekat ini dapat melekat kuat pada kulit babi, tulang rawan, jaringan, serta organ tubuh. Selain itu juga terbukti kalau perekat ini tidak membahayakan sel-sel tubuh manusia.
Dalam sebuah pengujian, perekat yang baru ini digunakan untuk menutup luka sayatan dari jantung babi yang berlumur darah dan berhasil menjaga tambalan tersebut untuk tidak bocor setelah jantung dipompa dan dikempiskan hingga puluhan ribu kali.
Dalam kasus yang lain, perekat ini diaplikasikan pada luka koyak pada hati tikus dan perekat ini berfungsi sama baiknya dengan hemostat, sebuah peralatan bedah yang acap kali digunakan dalam pembedahan untuk mengontrol pendarahan.
“Ada beragam potensi penggunaannya dan dalam kondisi tertentu bisa menggunakan benang operasi dan staples, yang dapat menimbulkan kerusakan atau sulit untuk digunakan pada situasi-situasi tertentu,” ujar David Mooney, seorang peneliti dan profesor untuk rekayasa hayati di Harvard, seperti dilansir VOA News.
Perekat yang terinspirasi kerang
Mooney dan para koleganya membayangkan perekat yang baru ini akan diproduksi dalam bentuk lembaran dan dapat dipotong sesuai dengan ukuran yang diinginkan, meskipun mereka juga telah mengembangkan versi suntik untuk menutup luka yang dalam. Cairan injeksi ini akan diperkeras dengan menggunakan sinar ultraviolet, seperti tambalan gigi.
Ini bukan pertama kalinya kalangan ilmuwan mendapatkan inspirasi dari alam untuk merancang perekat medis yang lebih baik.
Empat tahun yang lalu, sebuah kelompok peneliti yang lain mengembangkan perekat yang terinspirasi sifat melekat dari kerang yang ada di bawah air, namun Mooney berpendapat siput lebih unggul dari segi kemampuan melekat dan fleksibilitasnya.
Kalangan ilmuwan ini sedang mengajukan proses untuk memperoleh paten, meskipun perlu perusahaan komersil untuk memasarkannya lewat lisensi teknologi dan membawanya ke fase berikut untuk uji klinis pada manusia.
Manusia Purba Eropa Punya Kotak Bekal Makanan?
INILAHCOM, Jakarta - Wadah kayu kecil dari Zaman Perunggu ini dapat membantu ilmuwan mengumpulkan sejarah evolusi manusia purba Eropa.
Sekitar 2.000 sampai 4.000 tahun yang lalu, manusia purba Eropa tampaknya melewatkan makan siang mereka saat melakukan perjalanan melalui Pegunungan Alpen, Swiss. Kotak kayu kecil berbentuk lingkaran itu ditemukan pada tahun 2012 di puncak tertinggi, sekitar 8.000 kaki, di Pegunungan Alpen Bernese, Swiss Barat.
Pada saat penggalian, situs tersebut memiliki sejumlah artefak-gletser yang mudah luluh dan belum pernah terjamah manusia selama ribuan tahun. Ketika ditemukan, kotak itu tidak begitu menonjol dari beberapa artefak lain. Namun, saat diuji lebih lanjut, kotak tesebut mengandung banyak wawasan tentang pertanian manusia purba.
Analisis mikroskopis dan molekuler protein dan asam lemak yang tertinggal di dalam kotak menunjukkan adanya butiran sereal. Uji serupa yang dilakukan pada artefak mengungkapkan bahwa sebagian besar kotak bekal tersebut mengandung susu atau daging.
Namun, keberadaan sereal di sekitar wilayah itu sulit ditemukan. Tanaman berkurang begitu cepat di situs arkeologi. Ini berarti, peneliti harus mempelajari molekul artefak untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai kandungan penyusunnya.
Mengutip National Geographic, analisis pada kotak bekal dilakukan oleh para peneliti dari Max Planck Institute for the Science of Human History, Jerman dan University of York. Siaran pers yang diterbitkan oleh universitas tersebut menuliskan pentingnya secuil informasi mengenai evolusi dalam sejarah manusia.
"Pembibitan tanaman, seperti gandum, adalah salah satu langkah budaya dan evolusi yang paling signifikan dari spesies kita. Namun, bukti langsung penggunaan tanaman tersebut tetap sulit dipahami," tulis mereka.
Gandum, jelai, atau gandum hitam juga ditemukan di dalam kotak. Gandum adalah salah satu tanaman budidaya pertama di dunia. Selain itu, gandum juga menjadi biji yang paling banyak ditanam di dunia
Sebuah laporan dari Cereal Crops Research Unit Arm of the US Department of Agriculture mencatat bahwa gandum pertama kali ditanam 10.000 tahun yang lalu di wilayah yang dikenal sebagai 'Bulan Sabit Subur di Timur Tengah'. Penanaman ini memungkinkan manusia purba untuk mengubah gaya hidupnya, dari masyarakat pemburu-pengumpul ke masyarakat agraris.
Jalur Schnidejoch, di mana artefak itu ditemukan, menghubungkan Lembah Valais Swiss dengan Italia. Para peneliti berharap, temuan ini dapat memberikan petunjuk mengenai bagaimana praktik pertanian purba berkembang dan menyebar ke seluruh Eurasia.
Karena kotak bekal ini relatif kecil dan ringan --terbuat dari pinus Swiss-- para peneliti memprediksi bahwa kotak tersebut digunakan untuk perjalanan manusia Eropa purba melintasi pegunungan Alpen.
Migrasi massal ini terbukti berada di Zaman Perunggu. Studi yang diterbitkan di jurnal Nature tahun 2015 silam menganalisis DNA dari periode ini. Hasilnya, orang-orang purba yang dahulu berasal dari Rusia dan Ukraina cenderung bermigrasi ke barat Eropa selama periode tersebut.
Penulis penelitian mengatakan bahwa wilayah yang dahulu berada di akhir jalur Schnidejoch tidak hanya menjadi permukiman penduduk, tetapi juga tempat perdagangan skala kecil. Salah satu penulis studi tersebut, Fransesco Carrer, mengemukakan dalam siaran pers bahwa penggunaan artefak itu sesuai dengan kebiasaan manusia sehari-hari.
“Bukti ini memberi pencerahan baru mengenai kehidupan prasejarah di Alpen dan hubungan mereka dengan pegunungan yang ekstrem. Mereka melintasi Alpen sambil membawa bekal perjalanan, seperti pejalan kaki saat ini”, ujar Carrer.
Mahasiswa ITB Kembangkan Giroskop Militer
INILAHCOM, Bandung - Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil menciptakan giroskop militer pertama di Indonesia. Giroskop adalah perangkat untuk mengukur atau mempertahankan orientasi yang berlandaskan pada prinsip-prinsip momentum sudut.
Dilansir oleh laman resmi ITB, Selasa (1/8/2017), giroskop militer pertama di Indonesia ini diciptakan oleh Ardinda Kartikaningtyas dan tim. Mereka menciptakan G-FORTAR (Gyroscope for Military), sebuah giroskop serat optik yang diharapkan mampu menjadi giroskop pertama buatan putra-putri Indonesia.
Salah satu anggota tim G-FORTAR, Megan Graciela Nauli menuturkan, berbekal cita-cita Presiden Joko Widodo poin pertama tentang kehadiran negara untuk melindungi segenap bangsa dan pemberian rasa aman kepada seluruh warga negara, tim dari ITB ini tergerak untuk menciptakan perangkat militer tersendiri.
"Indonesia kan lagi gencar-gencarnya buat mewujudkan Nawacita yang dicanangkan Pak Jokowi, jadi pengen bisa mandiri dalam alat-alat sistem senjata," ujar Megan.
Ia mengatakan, di antara komponen utama alat utama sistem persenjataan (alutsista) adalah sebuah sistem navigasi inersial yang di dalamnya terdapat suatu sensor kecepatan sudut.
Sensor yang disebut giroskop ini, kata dia, memegang peranan penting dalam mengukur dan mempertahankan orientasi perangkat berdasarkan prinsip-prinsip momentum sudut.
Dalam dunia militer, giroskop yang banyak dipakai adalah giroskop berjenis serat optik, dan giroskop jenis ini banyak dipilih karena terbilang praktis dalam penggunaan serta mampu memberikan hasil yang lebih presisi.
Namun sampai hari ini, 100 persen giroskop yang dimiliki oleh Indonesia masih impor dari luar negeri. Menurut Megan dan tim, hal ini disebabkan belum menjamurnya pabrik serat optik di Indonesia.
"Padahal komponen ini merupakan komponen utama pada giroskop jenis serat optik yang banyak digunakan dalam dunia militer," kata dia lagi.
Penelitian tentang giroskop serat optik awalnya pernah dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), namun tidak terselesaikan.
"BPPT pernah juga mau meneliti tentang ini, tapi nggak kesampaian," kata Megan pula.
Meskipun begitu, Megan juga menyatakan bahwa BPPT sepenuhnya mendukung penelitian G-FORTAR ini.
G-FORTAR merupakan sebuah giroskop berjenis serat optik berdiameter 15 cm yang memanfaatkan efek Sagnac dan interferensi gelombang cahaya untuk mendeteksi kecepatan sudut perangkat alutsista.
Dengan memanfaatkan gelombang cahaya, giroskop ini diharapkan menjadi lebih efisien dan lebih presisi dibandingkan giroskop mekanik. Perangkat keras giroskop mengukur kecepatan angular perangkat dengan memanfaatkan interferensi gelombang cahaya.
Hasil pembacaan giroskop ini kemudian dimasukkan ke dalam perangkat lunak Kalman filter untuk diolah sinyalnya. Pengolahan sinyal ini berfungsi mereduksi galat, sehingga bacaan giroskop lebih akurat.
Kendala Perancangan G-FORTAR
Masalah utama yang dihadapi oleh tim yang beranggotakan Ardinda Kartikaningtyas (Teknik Fisika 2013), Megan Graciela Nauli (Teknik Fisika 2013), Nahdia Nurul Hikmah (Teknik Fisika 2013), Khodijah Kholish Rumayshah (Aeronotika dan Astronotika 2014), dan Cristian Angga Jumawan (Teknik Mesin 2014) ini, adalah komponen-komponennya yang belum dapat diproduksi oleh Indonesia secara independen.
"Kendala pada barang-barangnya, sebagian besar masih impor. Karena di sini susah dan kalau impor lama," kata Megan lagi.
Ia juga menyatakan bahwa masih kurang pengalaman dalam menangani serat optik juga merupakan kerikil dalam penelitian ini, selain mahal harga alat-alat yang berhubungan dengan optik.
Walaupun begitu, bantuan dari berbagai pihak seperti PT Telkom akhirnya mampu membuat G-FORTAR selesai dibuat, sebelum dilombakan dalam ajang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
Menurut Megan, ukuran giroskop ini sebenarnya masih bisa diperkecil lagi. Dengan diameter 15 cm, G-FORTAR masih tergolong cukup besar dibandingkan giroskop serat optik komersial di luar negeri.
Ukuran giroskop yang lebih kecil akan lebih mudah disematkan dalam berbagai perangkat.
Pengembangan G-FORTAR yang dilakukan di lingkungan perguruan tinggi ini diharapkan mampu memberikan sumbangsih aktif dalam rangka menuju Indonesia mandiri pada aspek teknologi alutsista.
Tim G-FORTAR juga mengharapkan penelitian ini dapat dilanjutkan oleh mahasiswa ITB sendiri atau masyarakat luas agar pengembangannya semakin baik, sehingga manfaatnya semakin cepat dirasakan oleh kemiliteran Indonesia.
Masa Depan G-FORTAR
Menurut Megan, ukuran giroskop ini sebenarnya masih bisa dipekecil lagi. Dengan diameter 15 cm, G-FORTAR masih tergolong cukup besar dibandingkan giroskop serat optik komersial di luar negeri. Ukuran giroskop yang lebih kecil tentu akan lebih mudah disematkan dalam berbagai perangkat.
Pengembangan G-FORTAR yang dilakukan di lingkungan perguruan tinggi ini sendiri diharapkan mampu memberikan sumbangsih aktif dalam rangka menuju Indonesia mandiri pada aspek teknologi alutsista.
Tim G-FORTAR juga mengharapkan penelitian ini dapat dilanjutkan oleh mahasiswa ITB sendiri atau masyarakat luas agar pengembangannya semakin baik sehingga manfaatnya semakin cepat dirasakan oleh kemiliteran Indonesia.